KESIAPAN BELAJAR MANDIRI MAHASISWA DAN CALON POTENSIAL MAHASISWA PADA PENDIDIKAN JARAK JAUH DI INDONESIA

Kristanti Ambar Puspitasari & Samsul Islam

(Universitas Terbuka)

This article discusses self-directed learning readiness of face-to-face and open-and-distance-learning (ODL) students. Serving as face-to-face samples were third grade senior high school students and ODL’s samples were Universitas Terbuka (UT) students. Samples of face-to-face students (as UT prospective students) were students from two high schools in Bogor and one in Depok. Self-directed learning readiness was measured with the Indonesian Version of Self-Directed Learning Readiness Scale (SDLRS) translated by Darmayanti (1993).The results showed that prospective students had significantly lower readiness for self-directed learning than UT students. SDLRS scores indicated that both prospective and UT students had average readiness for self-directed learning. It meant that students were likely to be successful in independent learning situations. However they were not completely comfortable being responsible for the entire process of identifying their learning needs and planning, imnplementing, and evaluating their learning. Thus, UT has to provide student support for improving students skills in self-directed learning.


Pendidikan jarak jauh (PJJ) seringkali dikaitkan dengan istilah belajar mandiri. Perkembangan konsep belajar mandiri di bidang PJJ merupakan konsekuensi salah satu karakteristik PJJ yang menuntut kemampuan belajar mandiri yang lebih tinggi dibandingkan bentuk pendidikan tatap muka. Hal ini mengingat lebih terbatasnya interaksi antara mahasiswa dengan instruktur dan dengan sesama mahasiswa. Paul (1990), seorang ahli PJJ, bahkan mengemukakan bahwa kesuksesan institusi PJJ tergantung pada kemampuan mahasiswanya untuk belajar mandiri. Beberapa peneliti juga mengemukakan bahwa siswa yang mempunyai kemandirian belajarlah yang akan berhasil menempuh pendidikan dalam sistem PJJ (Long, 1991; Moore, 1983; Paul, 1990). Oleh karena itu, calon mahasiswa dalam sistem PJJ seharusnya sudah mempunyai kesiapan yang memadai untuk belajar mandiri.

Menurut Sugilar (1999), kesiapan belajar mandiri berkaitan dengan kesiapan individu untuk melaksanakan kegiatan belajar atas inisiatif sendiri, dengan atau tanpa dukungan pihak lain. Pendapat ini senada dengan definisi Hiemstra (1994) yang mengemukakan bahwa seseorang yang mampu belajar secara mandiri artinya mampu merencanakan belajarnya sendiri, melaksanakan proses belajar, dan mengevaluasi belajarnya sendiri. Secara lebih spesifik, Knowles (1975) mendefinisikan belajar mandiri sebagai suatu proses di mana seseorang mempunyai inisiatif (baik dengan atau tanpa bantuan orang lain) dalam mendiagnosis kebutuhan-kebutuhan belajar mereka, merumuskan tujuan-tujuan belajar, mengidentifikasi sumber-sumber belajar, memilih dan melaksanakan strategi belajar yang sesuai, serta mengevaluasi hasil belajar mereka sendiri. Siswa yang memiliki kemandirian yang tinggi dalam belajar digambarkan sebagai orang yang mampu mengontrol proses belajar, mempergunakan bermacam-macam sumber belajar, mempunyai motivasi internal, dan memiliki kemampuan mengatur waktu (Guglielmino & Guglielmino, 1991) serta memiliki konsep diri yang positif dibandingkan dengan mereka yang kemandirian belajarnya rendah (Sabbaghian, 1980). Singkatnya, pelajar yang mampu belajar mandiri diartikan sebagai individu yang mempunyai tanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri (Hiemstra, 1994).

Penelitian Guglielmino & Guglielmino (1991) menunjukkan bahwa siswa yang mempunyai kemampuan belajar mandiri dicirikan oleh beberapa faktor. Siswa yang kemampuan belajar mandirinya tinggi menunjukkan ciri-ciri:

(1) mempunyai inisiatif, kemandirian, dan persistensi dalam belajar;

(2) menerima tanggung jawab terhadap belajarnya sendiri dan memandang masalah sebagai tantangan, bukan hambatan;

(3) mempunyai disiplin dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar;

(4) mempunyai keinginan yang kuat untuk belajar atau mengadakan perubahan serta mempunyai rasa percaya diri;

(5) mampu mengorganisasi waktu, mengatur kecepatan belajar yang tepat, dan mengembangkan rencana untuk penyelesaian tugas;

(6) senang belajar dan mempunyai kecenderungan untuk memenuhi target yang telah direncanakan.

 

Secara singkat, menurut Guglielmino & Guglielmino (1991), orang yang mampu belajar secara mandiri adalah orang yang mampu bertindak, bertanggung jawab, dan tidak takut menghadapi masalah.

Proses belajar mandiri dapat digambarkan seperti pada Gambar 1. Evaluasi terhadap situasi belajar dapat mengungkapkan bahwa beberapa kebutuhan belajar tidak terpenuhi atau disadari adanya kebutuhan-kebutuhan belajar yang baru. Pada prakteknya, proses belajar mandiri tidak selalu berlangsung secara berurutan seperti pada Gambar 1. Dalam setiap kegiatan belajar mandiri dapat terjadi kendala-kendala belajar, seperti kurangnya sumberdaya atau kurangnya waktu untuk belajar (Guglielmino & Guglielmino, 1991), yang dapat menyebabkan terganggunya proses belajar mandiri siswa. Menurut Lowry (1989), banyak orang dewasa yang tidak mampu melaksanakan belajar mandiri karena kurangnya kemandirian, kepercayaan diri, dan sumberdaya.

 

Gambar 1. Proses Belajar Mandiri menurut Guglielmino & Guglielmino (1991)

 

Alat ukur kesiapan belajar mandiri yang banyak digunakan pada umumnya dikembangkan berdasarkan konsep kemandirian di negara Barat. Belum banyak diketahui apakah perbedaan budaya di berbagai negara akan berpengaruh terhadap belajar mandiri. Penelitian tentang kesiapan belajar mandiri yang dilakukan oleh Darmayanti (1993) menemukan bahwa pada salah satu butir kuesioner yang diadaptasi dari kuesioner Self-Directed Learning Readiness Scale (SDLRS) dari Guglielmino, terdapat bias budaya. Butir tersebut menunjukkan nilai kesiapan belajar mandiri yang tinggi pada budaya Barat, tetapi justru menunjukkan nilai kesiapan belajar mandiri yang rendah pada budaya Indonesia. Oleh karena itu, pengukuran ulang dengan alat ukur yang sama perlu dilakukan. Dengan demikian, kita dapat melihat secara akurat perbedaan karakteristik mahasiswa PJJ di Indonesia dengan mahasiswa PJJ di negara Barat.

Artikel ini menyajikan hasil penelitian tentang kesiapan belajar mandiri calon potensial mahasiswa dan mahasiswa PJJ yang diukur dengan menggunakan instrumen SDLRS versi Bahasa Indonesia. Populasi penelitian adalah siswa Sekolah Menengah Umum (SMU) kelas III yang dianggap sebagai calon potensial mahasiswa PJJ dan mahasiswa Universitas Terbuka (UT). Daerah penelitian untuk sampel calon mahasiswa dipilih secara purposif, yaitu 2 SMU di daerah Bogor yang terletak di daerah perkotaan dan di pinggiran kota, serta 1 SMU di pinggiran kota Depok. Sampel SMU dipilih dari daerah Bogor dan Depok dengan alasan untuk meningkatkan kemungkinan menggeneralisasi hasil penelitian dan untuk mempercepat proses pengumpulan data. Kota Bogor merupakan daerah kotamadya cukup maju yang dianggap dapat mewakili daerah perkotaan di Indonesia. Sedangkan pinggiran kota Bogor dan pinggiran kota Depok dipilih karena dianggap dapat mewakili daerah kabupaten yang cukup maju di Indonesia.

Daerah penelitian ditentukan daerah yang cukup maju karena lulusan SMU di daerah tersebut diasumsikan lebih tertarik untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat perguruan tinggi. Selain itu, daerah Bogor dan Depok juga relatif dekat dengan Jakarta sehingga akan mempermudah dan mempercepat proses pengumpulan data. Sedangkan SMU di Jakarta tidak dipilih karena tingginya tingkat kompetisi di Jakarta sebagai kota metropolitan mungkin dapat menyebabkan perbedaan tingkat kematangan berpikir siswa SMU di Jakarta dibandingkan dengan siswa SMU di kota lain, yang tentunya akan mempengaruhi tingkat kesiapan belajar mandiri mereka.

Sampel mahasiswa dipilih secara acak dari seluruh Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) di UT dan dari seluruh fakultas. Kriteria untuk sampel mahasiswa baru adalah mahasiswa yang melakukan registrasi pertama di UT pada masa registrasi 2000.2 (semester 2 tahun 2000) dengan IPK minimal 1.75. Dari data mahasiswa yang terjaring dengan menggunakan kriteria tersebut, diambil 500 mahasiswa secara acak proporsional per program studi per UPBJJ.

Kriteria untuk sampel mahasiswa lama adalah mahasiswa yang melakukan registrasi pertama sebelum masa registrasi 2000.2 (atau yang setidaknya telah menempuh kuliah di UT selama 4 semester pada saat penelitian ini dilakukan) dengan IPK minimal 1.75. Setelah terseleksi, secara acak proporsional per program studi per UPBJJ diambil sebanyak 500 mahasiswa.

Sampel mahasiswa dipilih yang mempunyai IPK minimal 1.75 (padahal IPK minimal untuk kelulusan mahasiswa adalah 2.00) dengan tujuan untuk menjaring jumlah mahasiswa yang cukup banyak. Hal ini dilakukan mengingat penelitian ini merupakan bagian dari satu penelitian besar mengenai mahasiswa PJJ di Indonesia sehingga setiap mahasiswa hanya terpilih untuk menjadi sampel satu penelitian saja.

Tingkat kesiapan belajar mandiri diukur dengan kuesioner yang dikembangkan oleh Guglielmino, yaitu Self-Directed Learning Readiness Scale (SDLRS). Penelitian ini menggunakan isntrumen SDLRS versi Bahasa Indonesia hasil adaptasi yang telah digunakan pada penelitian Darmayanti (1993). Untuk mendapatkan data kesiapan belajar siswa SMU, pada setiap kelas di SMU sampel dipilih sekitar 10-15 siswa secara acak untuk mengisi instrumen SDLRS. Untuk mendapatkan data kesiapan belajar mandiri mahasiswa UT, instrumen dikirimkan melalui pos kepada mahasiswa sampel yang telah terpilih.

 

Keterangan:

¨ Orang dengan skor tinggi biasanya dapat menentukan sendiri kebutuhan belajarnya dan mampu bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan belajarnya. Mereka dapat menentukan berbagai pendekatan dan sumber untuk mencukupi kebutuhan belajarnya dan dapat mengevaluasi kemajuan belajarnya sendiri.

¨ Orang dengan skor rata-rata umumnya dapat belajar secara mandiri dengan sukses tetapi mereka kurang senang bila harus bertanggung jawab secara penuh dalam menentukan kebutuhan, merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi belajarnya sendiri.

¨ Orang dengan skor di bawah rata-rata mungkin sukar mengenali kebutuhan belajarnya sendiri. Mereka lebih menyukai suasana belajar di kelas dimana guru menentukan apa yang harus dipelajari, kapan dan bagaimana harus mempelajarinya. Mereka umumnya tidak terbiasa belajar secara mandiri.

 

Data dianalisis dengan program SPSS Windows Release 7.5.1 tahun 1996. Kesiapan belajar mandiri diterjemahkan dengan menggunakan interpretasi skor SDLRS yang diterapkan oleh Guglielmino dan Guglielmino (1991) seperti yang disajikan dalam Tabel 1. Kesiapan belajar mandiri calon mahasiswa dan mahasiswa diketahui dari nilai total yang diperoleh sebagai hasil pengisian instrumen SDLRS.

 

HASIL PENELITIAN

 

Tingkat Kesiapan Belajar Mandiri Calon Mahasiswa dan Mahasiswa

Baik siswa SMU (sebagai calon potensial mahasiswa PJJ) maupun mahasiswa UT (sebagai mahasiswa PJJ) semuanya mempunyai skor total SDLRS rata-rata, yang berarti bahwa responden penelitian ini telah mempunyai kesiapan belajar mandiri rata-rata. Skor paling rendah diperoleh oleh siswa SMU (207.74).

 

Tabel 3 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara skor SDLRS yang diperoleh antara kelompok siswa (F = 57.599; Sig. = .000). Berdasarkan tabulasi silang diketahui bahwa skor SDLRS siswa SMU secara nyata lebih rendah daripada skor mahasiswa UT, baik dengan mahasiswa baru maupun mahasiswa lama. Tetapi tidak terdapat perbedaan yang nyata antara skor SDLRS mahasiswa baru dan mahasiswa lama.

 

Tingkat Kesiapan Belajar Mandiri Siswa SMU

Dari tiga SMU yang siswanya diteliti, satu SMU terletak di daerah kotamadya dan dua SMU terletak di daerah kabupaten, hasil analisis tidak menunjukkan perbedaan nyata skor SDLRS rata-rata yang diperoleh siswa dari ketiga SMU sampel. Hal ini menunjukkan bahwa siswa di ketiga SMU tersebut mempunyai tingkat kesiapan belajar mandiri yang sama. Ditinjau dari skor rata-rata SDLRS yang diperoleh, siswa SMU sudah mempunyai potensi atau mempunyai kesiapan untuk belajar secara mandiri. Namun, meskipun tidak berbeda nyata secara statistik, siswa SMU di Depok cenderung mempunyai kesiapan belajar mandiri yang lebih tinggi dibandingkan siswa di Bogor.

 

Pada Tabel 5 dapat dilihat skor SDLRS untuk siswa SMU berdasarkan jurusan (IPA dan IPS).

Skor SDLRS siswa SMU dari jurusan IPA secara statistik lebih tinggi dari siswa dari jurusan IPS (F = 6.026; Sig. = .015), yang berarti bahwa siswa dari jurusan IPA secara signifikan mempunyai tingkat kesiapan belajar mandiri yang lebih tinggi daripada siswa IPS. Mata pelajaran pada jurusan IPA mungkin lebih menuntut siswa untuk melakukan belajar secara mandiri, sehingga siswa SMU dari jurusan IPA cenderung lebih siap belajar secara mandiri dibandingkan siswa IPS. Kemungkinan lain, siswa yang memilih jurusan IPA memang pada dasarnya sudah mempunyai kesiapan belajar mandiri yang lebih tinggi.

 

Siswa perempuan secara statistik mempunyai skor SDLRS rata-rata yang lebih tinggi dari siswa laki-laki (F = 7.890; Sig. = .005). Keadaan ini menunjukkan bahwa siswa perempuan lebih siap untuk belajar secara mandiri daripada siswa laki-laki. Hal ini mungkin ada hubungannya dengan pandangan stereotipe yang menganggap anak perempuan memang ‘diharapkan’ lebih cepat dewasa dibandingkan dengan anak laki-laki (Penulis belum dapat menemukan literature yang menyatakan bahwa anak perempuan lebih cepat dewasa daripada anak laki-laki). Pendidikan di lingkungan keluarga umumnya mendukung pandangan stereotipe ini, dimana anak perempuan diserahi tanggung jawab yang lebih besar dalam membantu orangtuanya (baca: ibu) dalam mengerjakan tugas rumah tangga, termasuk membersihkan rumah, memasak dan menjaga adik. Karena tugas-tugas domestik tersebut, anak perempuan dapat cepat menjadi dewasa sehingga mereka pun lebih cepat mandiri daripada anak laki-laki, termasuk lebih mandiri dalam belajar. Dalam hal ini, anak perempuan mungkin lebih mempunyai kesadaran dan ketekunan belajar dibandingkan dengan anak laki-laki.

Tingkat Kesiapan Belajar Mandiri Mahasiswa

Baik mahasiswa baru maupun mahasiswa lama semuanya mempunyai skor total SDLRS rata-rata (Lihat Tabel 1). Skor mahasiswa UT yang menjadi responden penelitian ini lebih tinggi dari skor rata-rata yang dilaporkan oleh Darmayanti (1993), yaitu sebesar 215.5 dan lebih tinggi dari skor rata-rata tingkat kesiapan belajar mandiri mahasiswa dewasa yang mengisi instrumen SDLRS di Georgia, Virginia dan Canada yang dilaporkan Guglielmino (1978, dalam Darmayanti, 1993), yaitu sebesar 214. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kesiapan belajar mandiri mahasiswa UT hampir sama dengan kesiapan belajar mandiri mahasiswa di negara Barat. Namun, harus diingat bahwa mahasiswa sampel dalam penelitian Guglielmino bukan mahasiswa PJJ, melainkan mahasiswa tatap muka.

Mahasiswa baru sebagai mahasiswa tingkat awal dapat dikatakan telah mempunyai kesiapan belajar yang relatif sama dengan mahasiswa yang sudah lebih lama belajar di lembaga PJJ seperti UT. Hal ini terlihat dari hampir sama tingginya skor rata-rata SDLRS yang diperoleh kedua kelompok mahasiswa tersebut. Berarti, dalam kasus UT tidak terdapat perbedaan kesiapan belajar antara mahasiswa yang sudah lama belajar dalam sistem PJJ maupun mahasiswa yang relatif baru belajar dalam sistem PJJ.

Data pada Tabel 7 menunjukkan bahwa mahasiswa UT umumnya mempunyai kesiapan belajar mandiri rata-rata. Padahal sistem PJJ menuntut mahasiswa untuk mengambil beberapa peran pengajar agar dapat berprestasi dalam belajar. Peran tersebut antara lain adalah peran pengajar dalam mengingatkan waktu belajar, waktu untuk mengerjakan tugas dan latihan, waktu ujian, dan sebagainya (Darmayanti, 2003, komunikasi pribadi). Dengan demikian, mahasiswa PJJ seharusnya memiliki kesiapan belajar mandiri yang lebih tinggi dari mahasiswa yang belajar dalam sistem pendidikan tatap muka. Hal ini berarti, kesiapan belajar mandiri rata-rata kurang ideal bagi mahasiswa UT, yang seharusnya memiliki kemampuan belajar mandiri di atas rata-rata.

Keadaan ini (kesiapan belajar mandiri mahasiswa UT yang tidak di atas rata-rata) mungkin yang menyebabkan rendahnya keberhasilan studi mahasiswa. Darmayanti (1993) melaporkan bahwa hanya sedikit mahasiswa UT yang memiliki IPK di atas 2.5 dan hanya 25% mahasiswa yang memiliki kesiapan belajar mandiri di atas rata-rata. Hasil studi ini juga menunjukkan sedikitnya jumlah mahasiswa UT yang memiliki kesiapan belajar mandiri di atas rata-rata (lebih dari 226), yaitu kurang dari 10%.

Mahasiswa UT mempunyai latar belakang yang sangat heterogen, terutama dari segi latar belakang pendidikan dan usia. Oleh karena itu, akan menarik untuk diketahui apakah mahasiswa yang mempunyai latar belakang pendidikan yang berbeda atau yang usianya berbeda mempunyai skor SDLRS yang berbeda pula.

Meskipun tidak berbeda nyata secara statistik, skor SDLRS mahasiswa lama yang berpendidikan S1 terpaut jauh dari skor mahasiswa lainnya. Tingginya tingkat kesiapan belajar mandiri mereka mungkin disebabkan karena sudah terbiasa belajar di tingkat perguruan tinggi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Fitts (dalam Brockett & Hiemstra, 1991), yang menyatakan bahwa individu yang lebih tinggi pendidikannya cenderung menunjukkan kesiapan belajar mandiri yang lebih tinggi. Demikian juga, Adenuga (dalam Darmayanti, 1993) melaporkan bahwa mahasiswa pasca sarjana memiliki kesiapan belajar mandiri yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa tingkat sarjana. Adenuga menemukan bahwa terdapat perbedaan skor SDLRS yang nyata antara mahasiswa tingkat master (n = 102, skor rata-rata = 226.76) dan mahasiswa tingkat doktoral (n = 71, skor rata-rata = 236.21) di Iowa State University.

Dalam kasus UT, mahasiswa lama (sudah menempuh pendidikan selama lebih dari empat semester di UT) yang sudah mempunyai pendidikan S1 telah mempunyai pengalaman belajar di atas tingkat sarjana meskipun belum dapat dikatakan mempunyai kemampuan setingkat pasca sarjana. Dengan demikian, mereka memang diharapkan memiliki tingkat kesiapan belajar mandiri yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa yang tingkat pendidikannya lebih rendah.

Secara umum, ada kecenderungan bahwa semakin dewasa mahasiswa semakin tinggi pula skor SDLRSnya (Tabel 9). Mahasiswa yang berusia antara 16-25 tahun mempunyai skor yang paling rendah (220.78). Sedangkan mahasiswa yang berusia 41-55 tahun mempunyai skor di atas rata-rata (232.43), yang berarti kesiapan belajar mandirinya di atas rata-rata.

Tabel 10 menunjukkan adanya perbedaan skor SDLRS yang nyata diantara kelompok usia mahasiswa (df = 3, F = 3.402, Sig. = .018). Hasil tabulasi silang menunjukkan bahwa secara keseluruhan mahasiswa yang berusia lebih dari 55 tahun mempunyai tingkat kesiapan belajar mandiri (ditunjukkan dengan skor SDLRS rata-rata) yang lebih tinggi dari skor yang diperoleh kelompok mahasiswa yang lain. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Curry (dalam Brockett & Hiemstra, 1991), yang mengungkapkan bahwa kelompok siswa yang lebih dewasa mempunyai skor SDLRS yang lebih tinggi. Long & Agyekum (dalam Brockett & Hiemstra, 1991) dan McCarthy (dalam Brockett & Hiemstra, 1991) juga menyatakan bahwa usia secara nyata berhubungan dengan bertambahnya skor SDLRS.

Mahasiswa lama yang berjenis kelamin perempuan mempunyai skor SDLRS rata-rata yang lebih tinggi daripada mahasiswa laki-laki (Tabel 11). Temuan ini mendukung temuan Darmayanti (1993), yang menunjukkan bahwa mahasiswa perempuan lebih tinggi skor SDLRSnya dibanding mahasiswa laki-laki. Sebaliknya, mahasiswa baru perempuan mempunyai skor yang lebih rendah dibandingkan skor mahasiswa laki-laki. Meskipun demikian, Tabel 12 tidak menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antara skor SDLRS mahasiswa laki-laki dan mahasiswa perempuan. (df = 1, F = .146, Sig. = .703)

 

Mahasiswa baru sebagian besar baru mengambil kredit mata kuliah sampai 24 sks. Sedangkan mahasiswa lama umumnya sudah mengambil mata kuliah lebih dari 35 sks. Secara statistik, skor SDLRS mahasiswa yang baru sedikit (ditunjukkan dengan jumlah sks) dan yang sudah banyak mengambil kredit mata kuliah tidak berbeda nyata (df = 3, F = 1.564, Sig. = .197). Hal ini dapat terjadi karena UT tidak membatasi jumlah sks yang diambil mahasiswa per semesternya. Ada mahasiswa yang langsung mengambil 30 sks pada semester I, tetapi ada yang hanya mengambil 10 sks pada semester I.

Tabel 12 menunjukkan bahwa ada mahasiswa lama (telah 4 semester kuliah di UT) baru mengambil <12 sks, tetapi ada mahasiswa yang baru menempuh 2 semester di UT telah menempuh >59 sks. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang telah mengambil kredit lebih banyak tidak berarti telah lebih terbiasa dengan sistem belajar mandiri.

Tampaknya lama studi di UT tidak mengakibatkan terjadi peningkatan skor SDLRS mahasiswa. Dengan kata lain, skor SDLRS yang diperoleh oleh mahasiswa yang sudah lebih lama belajar di UT tidak lebih baik dari skor SDLRS mahasiswa baru. Bahkan, skor rata-rata SDLRS yang diperoleh mahasiswa baru yang mengambil jumlah sks yang sama justru lebih baik dari mahasiswa lama UT. Sebagai contoh, skor SDLRS mahasiswa baru yang telah menempuh 36-59 sks menunjukkan bahwa mereka memiliki tingkat kesiapan belajar mandiri di atas rata-rata.

Seperti halnya jumlah sks, mahasiswa yang indeks prestasi kumulatif (IPK) nya tinggi tidak selalu memperoleh skor rata-rata SDLRS yang tinggi. Hal yang menarik adalah bahwa mahasiswa yang IPK nya rendah pun (< 2.00) ternyata mempunyai tingkat kesiapan belajar mandiri rata-rata. Hasil analisis juga tidak menunjukkan perbedaan nyata antara skor SDLRS mahasiswa yang IPK nya rendah (< 2.00) dan yang IPKnya lebih tinggi (df= 2, F =.067, Sig.=.936). Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang IPK nya tinggi belum tentu sudah lebih mampu menyesuaikan diri dengan sistem belajar mandiri. Ada kemungkinan bahwa mahasiswa yang mempunyai IPK tinggi memang mempunyai kemampuan belajar yang lebih tinggi dari pada mahasiswa yang lain, meskipun mereka mempunyai tingkat kesiapan belajar mandiri yang sama.

KESIMPULAN DAN SARAN

Siswa SMU menunjukkan tingkat kesiapan belajar mandiri rata-rata meskipun secara statistik lebih rendah dari kesiapan belajar mandiri mahasiswa UT. Demikian juga, hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa UT (baik lama maupun baru) telah mempunyai tingkat kesiapan belajar mandiri rata-rata. Artinya, mahasiswa UT umumnya mempunyai potensi untuk belajar secara mandiri tetapi mereka kurang senang bertanggung jawab secara penuh untuk menentukan kebutuhan belajarnya, merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi belajarnya sendiri. Keadaan ini kurang ideal untuk UT karena sistem PJJ yang dianut UT menuntut mahasiswa untuk memiliki kesiapan belajar mandiri yang lebih tinggi dari mahasiswa pada sistem pendidikan tatap muka.

Meskipun pada umumnya lulusan SLTA dapat dikatakan telah mempunyai kesiapan belajar mandiri yang cukup, pada saat telah menjadi mahasiswa mereka harus bertanggung jawab terhadap belajarnya sendiri. Artinya, mahasiswa (terutama mahasiswa PJJ) harus bersedia menentukan kebutuhan belajarnya, merencanakan belajar (waktu dan tempat), melaksanakan belajar (waktu, tempat, intensitas belajar), mengevaluasi belajar (mengerjakan latihan, tes formatif, tugas mandiri, tugas tutorial, dan mengukur hasil belajarnya), serta berusaha memperoleh bantuan belajar yang dibutuhkannya

Keberhasilan belajar seorang mahasiswa ditentukan oleh banyak faktor seperti kemampuan belajar, motivasi belajar, perencanaan belajar, keteraturan belajar, suasana belajar, dan sumber belajar. Seperti yang dikemukakan oleh Guglielmino & Guglielmino (1991), bila mahasiswa tidak menaati perencanaan belajar yang sudah dibuatnya sendiri atau sumber belajar yang dibutuhkannya tidak diperoleh, hal ini dapat mengurangi keberhasilan belajarnya. Dengan demikian, meskipun mahasiswa telah mempunyai tingkat kesiapan belajar mandiri yang cukup, bila potensi tersebut tidak dipergunakan dengan optimal maka keberhasilan belajar yang dicapai pun juga tidak akan optimal.

Skor SDLRS menunjukkan persepsi mahasiswa dan calon mahasiswa tentang kemampuan dan keterampilan belajar yang dimilikinya yang berkaitan dengan kesiapan belajar mandiri. Dengan demikian, instrumen SDLRS ini tidak mengukur secara langsung kemandirian belajar mahasiswa. Bila UT ingin mengetahui kemandirian belajar mahasiswa yang sebenarnya, UT perlu melakukan penelitian secara mendalam terhadap mahasiswa, yaitu dengan mengamati perencanaan belajar, sumber belajar, waktu belajar, intensitas belajar, cara mahasiswa mengatasi masalah belajar serta mencari bantuan belajar, dan sebagainya. Dengan cara ini UT baru dapat mengetahui apakah mahasiswanya ‘sungguh-sungguh telah belajar secara mandiri’, dan apakah ada hubungan antara ‘kesungguhan belajarnya’ dengan prestasi belajarnya. Disamping itu, UT sebagai institusi penyelenggara PJJ harus menyediakan layanan bantuan belajar yang dibutuhkan mahasiswa sampai di tingkat UPBJJ, baik berupa informasi dan bimbingan perencanaan belajar maupun berupa layanan konsultasi dan bantuan belajar. UT juga perlu menyediakan layanan bimbingan dan pelatihan belajar mandiri bagi mahasiswa yang ingin meningkatkan kemampuan belajar mandirinya. Selain itu, UT perlu menyediakan form evaluasi diri tentang kesiapan belajar mandiri, sehingga mahasiswa dan calon mahasiswa dapat mengevaluasi sendiri kesiapan belajar mandirinya. Form ini seyogyanya dapat diperoleh secara mudah, baik di UPBJJ, di Kantor Pusat, maupun melalui internet. Dengan demikian, mahasiswa dan calon mahasiswa yang membutuhkan dapat segera berusaha memperoleh bimbingan belajar mandiri.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Brockett, R.G. & Hiemstra, R. (1991). Self-direction in adult learning: Perspectives on theory, research, and practice. London and New York: Routledge.

Darmayanti, T. (1993). Readiness for self-directed learning and achievement of the students of Universitas Terbuka. Thesis master yang tidak dipublikasikan, University of Victoria, BC.

Guglielmino, L.M. & Guglielmino, P.J. (1991). Expanding your readiness for self directed learning. Don Mills, Ontario: Organization Design and Development Inc.

Hiemstra, R. (1994). Self-directed learning. In. T. Husen & T.N. Postlethwaite (Eds.). The International Encyclopedia of Education (2nd). Oxford: Pergamon Press.

Kasworm, C. (1992). The development of adult learner autonomy and self-directedness in distance education. In Conference Abstracts: Distance education for the twenty-first century, Konferensi the International Council for Distance Education, Nonthhaburi-Thailand.

Knowles, M.S. (1975). Self-directed learning: A guide for learners and teachers. Chicago: Follett Publishing Company.

Lowry, C.M. (1989). Supporting and facilitating self-directed learning. ERIC Digest No. 90.

Moore, M. (1986). Self-directed learning and distance education. CADE: Journal of Distance Education/Revue de l’enseignement a distance, 11. [URL: http://www.icaap.org/ iuicode ?151.1.1.3]. Diakses tanggal 28 Juni 2001.

Paul, R. (1990). Towards a new measure of success: Developing independent learners. Open Learning, 5(1), 31-38.

Sabbaghian, Z. (1980). Adult self-directedness and self-concept: An exploration of relationship. Disertasi Doktor, Iowa State University, 1979. Dissertation Abstract International, 40, 3701-A.

Sugilar. (1999). Kesiapan belajar mandiri peserta pendidikan jarak jauh ditinjau dari penilaian kendali pembelajaran, atensi belajar, dan lama mengikuti kuliah. (Disertasi Doktor). Jakarta: Program Pascasarjana Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan.